Multimedia
adalah penggunaan komputer untuk menyajikan serta menggabungkan teks, suara,
gambar, animasi, audio maupun video dengan alat bantu dan koneksi sehingga
pengguna dapat berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Salah satu contoh
perkembangan Multimedia pada bidang pendidikan adalah munculnya kegiatan
belajar dan mengajar yang dikenal dengan konsep e-Learning.
Menurut
Hartley, e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan
tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet
atau media jaringan komputer lain. Pendapat lain dari Matthew Comerchero
definisi yang lebih luas mengenai E-learning yaitu sarana pendidikan yang
mencakup motivasi diri sendiri, komunikasi, efisiensi, dan teknologi. Karena
ada keterbatasan dalam interaksi sosial, siswa harus menjaga diri mereka tetap
termotivasi. E-learning efisien karena mengeliminasi jarak dan arus
pulang-pergi. Jarak dieliminasi karena isi dari e-learning didesain dengan
media yang dapat diakses dari terminal komputer yang memiliki peralatan yang
sesuai dan sarana teknologi lainnya yang dapat mengakses jaringan atau
Internet.
Sekarang ini
metode pembelajaran e-learning cukup digemari dan menjadi salah satu pilihan
dosen untuk mengajar mahasiswanya. E-learning atau electronic learning adalah
metode pembelajaran jarak jauh yang memanfaatkan sarana teknologi berupa
internet (via internet). Metode e-learning ini biasanya digunakan oleh dosen
yang sibuk dan dosen-dosen di universitas besar seperti UI, UNSRI, ITS, Unair,
ITB dan UB. Hal ini dilakukan karena metode pembelajaran ini tidak membutuhkan
tatap muka (face to face) antara mahasiswa dan dosen. Mahasiswa hanya
diharuskan duduk di depan komputer atau laptop dan on line di internet. Dosen
benar-benar hanya berfungsi sebagi mediator, fasilitator, dan motivator. Dosen
cukup memberikan modul perkuliahan maupun soal-soal latihan hingga UTS maupun
UAS melaui email maupun website khusus e-learning (misalnya pada UNSRI)
mahasiswa harus mencari sumber atau data sendiri dari bahan kuliah atau tugas
yang diberikan dosen.
Beberapa
keuntungan yang dapat diperoleh mahasiswa dari penggunaan metode ini. sehingga
mengubah sedikit kebiasaan. Pertama, metode pembelajaran ini bisa dilakukan
kapan saja asal sesuai dan memenuhi target yang diberikan universitas. Kedua,
lebih efisien dan efektif. Hal ini karena metode ini dapat menghemat waktu dan
tenaga, mahasiswa tidak perlu pergi ke kampus untuk belajar, jadwal kuliah
fleksibel karena jadwal kuliah tidak dibakukan dan dapat meminimalisir mahasiswa
mengantuk atau bosan ketika mengikuti kuliah. Apabila mahasiswa diberi tugas
oleh dosen mereka bisa langsung mencari jawaban dari tugas tersebut lewat
browsing di internet langsung. Ketiga, metode ini dapat menghemat biaya yang
dikeluarkan mahasiswa. Apabila semua dosen di universitas menggunakan metode
ini, maka mahasiswa tidak perlu membayar biaya perkuliahan dalam jumlah besar.
Mahasiswa tidak perlu mengeluarkan uang untuk browsing internet karena sebagian
besar universitasnya menyediakan fasilitas wi fi. Keempat, mahasiswa harus
benar-benar aktif dalam proses belajar, karena dosen hanya bertindak sebagai
pengarah, mediator, motivator, dan fasilitator. Kelima, secara tidak langsung
metode pembelajaran ini mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi
sahingga mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu tetapi juga supaya tidak gaptek
(gagap teknologi). Mengingat di zaman yang maju dan modern seperti ini
penguasaan teknologi sangat dibutuhkan. Keenam, dapat menghemat penggunaan
kertas yang digunakan untuk mencatat atau mengerjakan tugas sehingga dapat
membantu mencegah perluasan atau percepatan global warming. Seperti yang kita
ketahui bersama bahwa kertas terbuat dari bahan dasar pohon, padahal pohon
merupakan peredam global warming.
Penggunaan
metode pembelajaran e-learning ini selain berdampak positif tetapi juga
berdampak negatif bagi mahasiswa. Beberapa kerugian yang ditimbulkan dari
penggunaan metode e-learning bagi mahasiswa. Pertama, tidak semua mata kuliah
menuntut mahasiswa harus aktif sepenuhnya, seperti mata kuliah kalkulus,
statistik, akuntansi, fisika atau mata kuliah kantitatif lainnya yang
memerlukan bimbingan dari dosennya langsung. Untuk mata kuliah tersebut seperti
itu pembelajaran seperti biasanya masih sangat dibutuhkan oleh mahasiswa.
Kedua, metode ini membuat mahasiswa menjadi malas karena semuanya serba
instant. Ketiga, penggunaan teknologi internet dalam proses belajar mengajar
membuat mahasiswa semakin jauh dari buku. Padahal bagaimanapun juga buku adalah
jendela dunia. Selain itu pertanggungjawaban dari pelajaran yang diajarkan
melalui metode e-learning sulit dibuktikan karena pembelajaran tersebut berada
di dunia maya, dimana didunia ini semua bisa dimanipulasi dengan mudah. Kelima,
kurangnya atau minimnya tatap muka antara dosen dan mahasiswa membuat
komunikasi diantara keduanya kurang, padahal saat ini komunukasi langsung
sangat diperlukan. Selain itu, kadang mahasiswa sama sekali tidak tahu siapa
dosennya sehingga mahasiswa kurang hormat terhadap dosennya.